Kamis, 10 Juli 2014

menghafal Al_Qur'an dalam 10 hari

AlhamduliLLAH, sesuai dengan kemuliaan dan
keagungan kuasa-NYA, aku telah khatam
menghafal Al Qur’an. Berikut ini pengalamanku,
dan aku menghadiahkannya untuk kalian.
Ini adalah masa-masa indah yang berlalu dengan
segala kisah yang ada di dalamnya. Dan, inilah
mimpi yang m,enjadi kenyataan. Serta, memori
yang selalu menghampiriku.
Perlu diketahui bahwa sesungguhnya tujuan
terbesar dalam hidupku adalah hafal surah Al
Baqarah dan Ali ‘Imran. Demi ALLOH, sekali0kali
kalian tidak akan percaya bahwa sebenarnya aku
adalah orang yang tidak memiliki kesabaran
untuk menghafal Al Qur’an secara keseluruhan.
Itu disebabkan karena aku menganggaphal
tersebut sebagai sesuatu yang mustahil dan
sangat susah diwujudkan. Dan saat itu, aku
masih hidp dengan mempertahankan tujuan yang
ingin aku wujudkan sebelumnya, yaitu hafal surah
Al Baqarah dan Ali ‘Imran.
Aku beranggapan bahwa kedua surah itu adalah
yang paling sulit dihafal. Kau juga beranggapan
bahwa sepertinya sulit sekali untuk
mempertahankan hafalan tersebut dalam waktu
lama. SubhanaLLOH, tak terasa sudah 7 tahun
aku mempertahankan hafalan kedua surah
tersebut.
Ketika tiba bulan Ramadhan, tiba-tiba suamiku
mengejutkanku bahwa ia akan beri’tikaf selama
15 hari terakhir Ramadhan di Masjid Al Haram.
Tentu kalian mengerti akan kesulitan yang akan
kuhadapi, karena aku ditinggal sendirian bersama
anak-anakku.
Kami tinggal di daerah yang jauh dari keluarga,
sedang para tetangga di sini semuanya menutup
pintu rumah (tidak peduli dengan urusan sesama
tetangga). Namun di sisi lain, aku juga merasa
gembira karena suamiku akan beri’tikaf. Tetapi,
manfaat apa yang dapat kupetik dalam
kesendirian?
Ketika waktunya telah tiba dan suamiku pergi
untuk beri’tikaf, aku [un merasakan pahitnya
ditinggal sendirian (bersama anak-anak).
Kemudian, aku menengadahkan tanganku kepada
Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Lalu aku berdoa kepada-NYA dengn doa orang
yang tertimpa kesulitan, sedang air matapun
mengalir deras membasahi pipiku, “Wahai RABB-
ku, ENGKAU Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Curahkanlah kepadaku rizqi berupa
teman-teman yang shalih/shalihah, yang lebih
baik dariku. Sehingga, aku bisa meneladani
mereka. Yaa ALLOH, berikanlah untukku sebaik-
baik teman.”
Sungguh, dalam waktu singkat doaku dikabulkan
oleh RABB Yang Maha Pengasih. Sebagaimana
kita ketahui bahwa Dia telah berfirman dalam
kitab-NYA, “…. ud’uunii astajib lakum..” Artinya :
“Berdoalah kepada-KU, niscaya akan AKU
perkenankan bagimu…” (QS. Ghafir (40) : 60).
Ketika aku duduk di depan komputer sambil
mengakses internet guna mencari situs yang
berisikan informasi tentang keajaiban Al Qur’anul
Karim, tiba-tiba mataku tertuju pada situs
akademi penghafal Al Qur’an. Sebelumnya, aku
tidak tahu bahwa masuknya alku ke dalam
komunitas situs ini adalah pertanda terkabulnya
doaku. Aku pun masuk dalam komunitas situs
inidalam keadaan teharu.
Demi ALLOH, aku sign out dari situs ini dalam
keadaan tidak seperti keadaan ketika aku sign in.
Keadaan ini belum pernah aku impikan
sebelumnya. Setelah ini belum tertuju untuk
beri’tikaf selama 10 hari terakhir Ramadhan
dalam rangka menghafal Al Qur’an. Sungguh
merupakan karunia dan taufik ALLAOH atasku
adalah aku segera mendaftarkan diri untuk
beri’tikaf di akademi penghafal Al Qur’an tersebut
tanpa keraguan.
“Setelah itu, kerinduanku (untuk menghafal) pun
bertambah. Sementara kesedihan dan
kesempitanku hilang. Kemudian ALLOH mengganti
kedua perasaan tersebut dengan ketenangan yang
tiada tara.” Sejak pertama aku beri’tikaf, aku
merasa kagum dengan para akhwat yang turut
beri’tikaf denganku. Demi ALLOH, mereka adalah
sebaik-baik saudari di jalan ALLOH. Mereka
menceritakan pengalaman-pengalaman mereka
dalam menghafal Al Qur’an.
Aku bertawakkal pada ALLOH, aku mengambil
keputusan untuk beri’tikaf dalam menghafal Al
Qur’an, karena sesungguhnya inilah amalan
terbaik di bulan Ramadhan. Akupun
berujar,”Sungguh, Ramadhan kali ini akan berbeda
(dengan Ramadhan sebelumnya), dengan izin
ALLOH.”
Kuambil secarik kertas, lalu kutulis di dalamnya
keuntungan-keuntungan yang akan kuperoleh dari
menghafal Al Qur’an, berupa nikmat dan kebaikan
yang besar di dunia maupun akhirat. Begitu pula
dengan nikmat yang lebih besar daripada
keduanya, yaitu keridhaan ALLOH terhadapku.
Dengan izin ALLOH, dalam waktu yang tidak lama
lagi aku akan bergabung dengan mereka, sebaik-
baik umat ini, sebagaimana sabda RasuluLLOH
SAW : “Khoyrukum min ta’allamal Qur’an
wa’allamahu.” Artinya : Orang yang paling baik di
antara kalian adalah orang yang mempelajari Al
Qur’an dan mengajarkannya. (HR. Abu Dawud,
Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Saat itu, aku berkhayal seakan-akan aku bersama
para Nabi, Shiddiqin, Syuhada’ dan orang-orang
shalih, dan mereka itulah teman yang paling baik.
Kemudian aku berkhayal lagi seakan-akan aku
menyematkan mahkota di atas kepala kedua
orang tuaku dengan kedua tanganku ini. Aku
berkhayal bahwa aku dapat membebaskan mereka
(dari siksa), kemudian aku pun kembali kepada
diriku (untuk membebaskan diri sendiri). Aku
Juga berkhayal mengenai berbagai kenikmatan
yang ALLOH anugerahkan kepadaku.
Aku menulis semuanya, dan kugantungkan tulisan
itu ditempat yang seantiasa kurawat. Akupun
membawa halaman-halaman (mushaf Al Qur’an).
dimana aku telah bertekad untuk tidak sekalip-un
meninggalkannya, bahkan aku akan menjadikan
sebagai teman setia dalam perjalanan ini. Setelah
itu, aku berwudlu lalu duduk dan membuka Al
Qur’an. Aku berkata dengan suara yang hanya
terdengar oleh diri sendiri, “Sekarang aku akan
menguji kemampuan akalku yang sebenarnya.
Dan aku akan memulainya dengan bertawakkal
pada ALLOH .” Itu kuucapkan seraya mengulang-
ulang firman ALLOH Ta’ala : “walaqoq yassarnal
Qur’aana lidzdzikri fahal min muddakkir .”
Artinya : “Dan sesungguhnya telah KAmi
mudahkan Al Qur’an itu untuk pelajaran. Maka,
adakah oeang yang mengambil pelajaran?” (QS.
Al Qomar (54) : 17).
Kemudian, kupasangkan alat pengingat untuk
mengingatkanku bahwa aku akan hafal 1 lembar
dalam 10 menit. Maka, akupun mulai menghafal
halaman demi halaman. Setiap halaman,
kuhafalkan seraya berdo’a kepada ALLOH agar
DIA berkenan memantapkannya pada diriku. Doa
yang kupanjatkan adalah,”Wahai RABB-ku,
kutitipkan pada-MU apa yang telah ENGKAU
ajarkan kepadaku, maka jagalah ia untukku.”
Aku mulai menghafal pada waktu Dluha sampai
Zhuhur. Lalu menghafal lagi sampai jam 14.30
siang. Setelah ati, aku tidur sebentar dengan
memasang alarm. Ketika alarm berbunyi pada
jam tiga sore, aku segera bangun untuk sholat
‘Ashr. Kemudian, aku mulai menghafal sampai
datangnya waktu maghrib dan kulanjutkan hingga
menjelang ‘Isya’. Dari mulai menghafal sampai
selesai, aku tidak berpindah-pindah. Aku hanya
duduk pada satu tempat, hingga tak terasa aku
sudah hafal 3 Juz. Yaa ALLOH, betapa mulianya
ENGKAU dan betapa besarnya nikmat-MU. Akan
tetapi, mengapa kami tidak pernah menyukuri
nikmat ini?
Aku melanjutkan hafalanku sampai selesai
menghafal 16 juz dalam 6 hari, alhamduliLLAH.
Aku bingung, apakah akan kusembunyikan
hafalanku menjadi 30 juz atau mengulang-ulang
apa yang telah kuhafal. Kawan-kawan baikku
menasehatiku agar aku menyempurnakannya dan
tidak berhenti hanya pada juz ke 16, maka
kusempurnakanlah hafalanku. Aku yakin bahwa
hafalanku tidak hilang hingga suamiku datang
dan kami kembali berkumpul dengan keluarga.
Karena, akau telah “menitipkannya pada RABB-ku
Yang Maha Mulia (agar DIA selalu menjaganya).
SubhanaLLOH, tak terasa aku meninggalkan
tempat dimana aku menghafal Al Qur’an dan
berkhalwat dengan RABB-ku. Setelah itu, aku
akan menuju kehidupan yang melalaikan dan
keduniaan yang fana, dimana semuanya sedang
memfokuskan perhatiannya pada beberapa
pertanyaan,” Kue dan manisan apa yang akan
kami persiapkan untuk hari ‘Id kali ini ? Pakaian
apa yang kami pakai pada hari ‘Id kali ini?” Serta
berbagai hal lainnya, sedang aku masih
mengasingkan diri untuk menghafal Al Qur’an.
Kemudian, aku kembali kepada mereka,
sedangkan aku berharap dapat menghatamkan
hafalanku pada hari terakhir bulan Ramadhan dan
mendapatkan dua kebahagiaan. Namun ketika
yang kuharapkan belum terwujud, cobaan dan
ujian dari RABB semesta alam datang padaku.
Sehingga muncul pertanyaan, apakah aku akan
melanjutkan hafalanku atau justru
menghentikannya? dan AlhamduliLLAH, aku tidak
berhenti menghafal.
Mungkin kalian tak akan percaya bahwa pada
suatu hari aku tidak dapat menghafal kecuali
hanya 2 halaman. Bukan karena tidak bisa, tetapi
karena aku disibukkan dengan musibah yang
menimpaku. Keempat anakku semuanya
menderita demam tinggi, hingga mereka tidak
bisa tidur sepanjang malam. Karena itulah aku
banyak begadang malam untuk menemani
mereka. Bahkan ketika aku merasa kepayahan
sedang anakku yang paling kecil terus-menerus
menangis, dan tak ada seorangkpun yang
membantu, akupun jatuh sakit.
AlhamduliLLAH, walaupun sakit aku tak berhenti
melanjutkan hafalan, dan terus berusaha sampai
ALLOH berkenan menyembuhkan anak-anakku
yang sudah lama terbaring sakit. Setelah mereka
sembuh, aku bertawakkal pada ALLOH dan
berkata pada diri sendiri, “Akan kukhatamkan 10
juz hafalan yang tersisa, dalam waktu dekat .”
AlhamduliLLAH sungguh ALLOH telah memberikan
karunia-NYA kepadaku hingga aku dapat
menghafal dengan cepat.
Momen-momen terindah alam hidupku, yaitu saat
aku mengkhatamkan hafalan Al Qur’an.
Pagi hari tu, aku bermimpi indah, mimpi itu
menghembuskan kabar gembira bahwa pada hari
itu aku akan mengkhatamkan hafalan Al Qur’an,
serta merta aku teramat gembira karena pada
hari itu hafalanku yang tersisa hanya tinggal 3
juz. Aku mulai menghafal dan tanpa sadar, aku
menghafal dengan cepat. 1 halaman dapat
kuhafal dalam waktu 8 menit, bahkan kadang 5
menit. Sehingga, ketika waktu menunjukkan pukul
21.00 malam, aku masih tak tahu bahwa itulah
waktu yang telah kutunggu-tunggu. Itulah waktu
pengkhataman hafalan.
Aku terus membaca dan menghafal, hingga tak
kusadari bahwa yang tersisa hanya tinggal
beberapa halaman. Tahukah kalian bagaimana
aku menyadarinya? Sungguh, kalian tak akan
percaya, aku merasakan ssuatu yang sangat
aneh, ini belum pernah kurasakan sebelumnya.
Perasaan ini bahkan tak bisa digambarkan,
karena begitu cepatnya menjalar ke seluruh
tubuhku. Perasaan yang berupa ketenangan dan
ketentraman.
Demi ALLOH, seakan-akan diriku terbang karena
ringannya tubuh. Aku jadi seperti selembar bulu,
karena saking ringannya. Aku merasa heran,
hingga aku bertanya pada diri sendiri, “Rasa apa
ini ?” Jantungku mulai berdegup kencang, seolah-
olah ia berkata padaku, “Semoga keberkahan
terlimpahkan atasmu, engkau telah khatam
menghafal Al Qur’an. Al Qur’an telah bersemayam
di dadamu.” Tiba-tiba aku tersadar, ternyata aku
sedang membaca akhir ayat dimana aku
mengkhatamkan Al Qur’an. Akupun langsung
menyungkurkan diri bersujud syukur di tanah,
sedang air mata kegembiraan jatuh menetes ke
bumi. Aku lantas berlari menemui suamiku, dan
kukabarkan berita gembira ini padanya dengan
penuh sukacita.
Lalu, kutatap mushaf yang telah menemaniku
sepanjang perjalanan menghafal ini. Aku
menangis sembari berkata,” Duhai mushafku yang
tercinta… sungguh, aku telah sampai pada
momen-momen terindah dalam hdupku.” Kupeluk
mushaf itu denagan erat dan berulang kali
kuucapkan,” AlhamduLILLAH, segala puji bagi
ALLOH, sesuai dengan kemuliaan wjahNYA dan
keagungan Kuasa-NYA. AlhamduliLLAH, aku telah
khatam menghafal Al Qur’an sebelum ajal
menjemputku.”
Berikutnya, perasaan yang tak bisa kugambarkan
adalah tiba-tiba aku beranjak ke depan komputer.
Lalu kuputar CD berisi ucapan-ucapan takbir,
yang kuimpikan sepanjang masa hafalanku.
Kemudian aku dan suamiku mendengarkannya
dan semua merasa gembira.
Yaa ALLOH, segala puji bagi-MU yang telah
memuliakanku dengan menghafal kitab-MU.
Duhai RABB-ku, betapa mulianya ENGKAU. KAU
telah menggantikan kesendirianku dengan
sahabat-sahabat terbaik yang menemaniku dalam
kehidupanku dan dikuburku nanti. Wahai RABB-
ku, kuberdoa pad-MU saat hatiku terkoyak
lantaran kesendirian. Kemudian ENGKAU
menggantinya dengan sesuatu yang lebih dari apa
yang kuangan-angankan dan kuharapkan. Betapa
mulianya ENGKAU., wahai RABB Yang Maha
Pengasih, yang telah memberikan karunia
berlimpah.
Untuk menutup halaman ini aku sampaikan pada
kalian bahwa aku adalah wanita sebagaimana
wanita lainnya. Aku memiliki suami dan anak-
anak yang belajar di sekolah khusus dengan
kurikulum pelajaran yang sangat sulit. Aku
menghafal Al Qur’an tapi aku tidak melalikan
tanggung jawabku sebagai seorang ibu. Aku didik
anak-anakku dan berusaha mengajari mereka
segala sesuatu. Bahkan tanggung jawabku yang
paling utama adalah sebagai seorang istri yang
berusaha untuk mendapatkan keridloaan suami,
tanpa mengurangi haknya dan dengan
menunaikan kewajiban-kewajibanku secara
sempurna.
AlhamduliLLAH, ALLOH tidak menjadikanku telat
dalam menghafal Al Qur’an. Demi ALLOH,
janganlah sekalipun kalian beralasan atas tidak
hafalnya kalian terhadap Al Qur’an. Apalagi kalian
adalah para gadis yang belum menikah dan belum
memikul tanggung jawab. Pertama dan terakhir
kalinya adalah berparasangka baik pada ALLOH,
karena dengan begitu ALLOH akan berprasangka
baik sesuai dengan prangsaka hamba-NYA. Pada
awalnya, aku mengira bahwa Surah Al Baqarah
dan Ali ‘Imran sangat sulit untuk dihafal dan
usaha itu akan memakan waktu yang lama. Dan,
ALLOH pun memberikanku anugerah sesuai
dengan apa yang kusangka, yakni menghafal
selama 7 tahun. Itu karena aku tidak
berprasangka baik kepada ALLOH.
Wahai orang yang berkeinginan untuk menghafal
Al Qur’an, bertawakkal-lah pada ALLOH,
bersungguh-sungguhlah dalam berusaha, dan
jujurlah pada dirimu, bahwasanya engkau benar-
benar ingin menghafal Al Qur’an! Serta,
berprasangka baiklah bahwa ALLOH akan
memberikan taufik-NYA atas usahamu. Demi
ALLOH engkau akan memperoleh apa yang kau
ingin dengan segera. Dan engkau akan menjadi
bagian dari penghafal kalam yang paling agung,
yaitu kalam RABB semesta alam.
SuhanaLLOH, mereka yang mengenalku mengira
bahwa aku selalu mengawasi anak-anakku.
Tetapi tanpa perlu kujelaskan dengan kata-kata,
mereka akan mengatahui hal yang sebenarnya.
Suatu hari, ketika aku sedang duduk, anakku yang
belum genap berusia 2 tahun berjalan mendekati
meja yang di atasnya terdapat beberapa mushaf.
Kemudian, ia membawa mushaf yang biasa
kugunakan untuk menghafal. Ia mengenali
mushaf itu, dan membawanya padaku. Setelah
itu, ia menyerahkan kepadaku sembari
mengucpkan beberapa patah kata’” Mata, Qur’an .”
seakan-akan ia berucap,” Bacalah wahai ibu,
dalam waktu dekat ibu akan selesai
menghatamkannya .”
SubhanaLLOH, pada hari itu tidak ada
perhatiannya selain mencariku dan mencari
ayahnya. Jika mushaf tidak terdapat di tangan
kami, maka ia berlari untuk mengingatkan kami…
subhanaLLOH….



*kisah ini ditulis oleh
Ir. Amjad Qasim dalam bukunya Kaifa Tachfazh al
Qur’an al Karim fii Syahr, ini kisah Ummu zayid*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar